Kisah Inspiratif

 

Terjalnya Jalan Menggapai Mimpi

Oleh: Kang Rudi

Setiap pagi kulalui jalan setapak naik turun menuju tempat kerja yang diimpikan, aku memang hanya lulusan D3 Akuntansi Perpajakan, tapi tekadku untuk menjadi guru begitu besar, hingga ku harus mengorbankan masa muda yang kata orang masa yang takkan terganti. Selepas subuh dan sarapan pagi aku sudah siap menempuh perjalanan kurang lebih satu jam setengah.

“Gak cape tiap hari pulang pergi?” tanya ibu.

“Gak bu, demi cita-cita.” Jawabku

“Ibu dan bapak gak bisa beliin kamu motor.”

“Gak usah beli motor, nanti aku jadi manja.

Tampak ibu begitu sedih, ia sempat menetesan air mata. Aku juga sedih kalau meratapi nasibku tentu aku sangat sedih, hidup dengan segala kesederhanaan, ketidakmampuan dan kekurangan. Tapi dibalik semua itu aku jadi semangat untuk mengubah nasib, menjadi lebih baik.

“Mau sampe kapan jadi guru honorer?” Tanya Ua Ijah

“Gak tau Ua.” Jawabku

“Gak usah terlalu berharap cepet diangkat”

“Iya Ua.”

“Kita keluarga petani, jangan banyak tingkah.”

Sakit sekali rasanya mendengar perkataan itu, tapi memang apa yang disampaikan Ua Ijah ada benarnya. Orang lain seusiaku sudah bisa membahagiakan orangtuanya, bekerja dikota dan gajinya diatas UMR. Pulang bawa avanza bahkan inova. Sementara aku tiap pagi masih saja berjalan kaki pergi dan pulang, bahkan kadang harus menginap di sekolah.

“Sudah jangan terlalu diambil hati.” Ujar ibu

“Iyah Bu.”

“Sana berangkat, nanti kesiangan.”

Aku menarik nafas, memejamkan mata lalu mengucap basmallah dalam hati.  Baru juga dua langkah tiba-tiba Ua kembali melemparkan perkataannya.

“Biar gak cape, besok ikut kakak kamu ke Jakarta”.

“Jangan telalu ikut campur Ua.” Ujar Ibu

“Bukan ikut campur, Cuma kasian ajah.” Ujar Ua

“Ridho udah dewasa, tau yang terbaik.” Ujar Ibu

Dua orang perempuan paruh baya itu akhirnya beradu argumen dan saling mempertahankan satu sama lain. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya gejolak dalam dada, ingin sebenarnya aku timpali perkataan ua, tetapi ibu mengglengkan kepala tanda tidak setuju, akhirnya aku tahan semua unek-unek itu.

Dengan dada sesak akhirnya aku langkahkan kembali kakiku dengan penuh harap. Kedepan ada kejelasan tentang nasib guru honorer. Memang jika diresapi, apa yang dikatakan Ua Ijah tidak ada yang salah. Pantas ia merasa bekerja di kota lebih cepat menghasilakn uang, karena ketiga anaknya merantau dan sukses. Tiap bulan mengirim uang untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi Ka Edo yang bekerja di pabrik tekstil, tiap kali gajian ia bisa kirim uang setara gaji ku setahun jadi guru honorer.

Hanya keteguhan hati dan keikhlasan yang membautku bertahan dan berjuang untuk tetap menjadi guru. Tiada penyesalan dan tidak ada paksaan tentang pilihanku menjadi guru, semuanya murni panggilan mengabdi, dan jika suatu saat nanti diangkat jadi abdi negara itu aku anggap sebagai bonus dari yang maha kuasa.

Pagi terasa begitu lama kulalui, jalan setapak yang kulaui terasa bagitu jauh. Padahal biasanya aku begitu semangat kalau berangkat pagi-pagi. Peristiwa tadi pagi telah membuat semangatu sedikit kendur.

“Pak guru, jalan kaki” tanya seorang warga

“Ia, biar sehat pak”

“semangat ya pak guru.” Tambahnya lagi

Aku hanya tersenyum simpul, memang kalau bekerja di perdesaan guru memiliki semacam magis tersendiri, mereka tidak membedakan guru honorer atau PNS, rasa hormat mereka sama saja.

Salah satu penyemangatku yang memang tidak didapatkan di desa tempat aku tinggal. Tidak ada penghargaan lebih, tidak ada kebanggaan atau yang bisa dibanggakan.

Kehangatan dan kekeluargaan di sekolah tempat ku mengajar yang menjadi salah satu alasan aku tetap memlihara impian menjadi seorang guru. Tidak ada hal lain lagi. Aku ingin mengabdikan sepenuh jiwa dan ragaku untuk sekolah yang telah menampungku meski dengan gaji seadanya. Sekadar cukup untuk kebutuhan pribadi sehari-hari.

“Rido, kesini.” Ujar kepala sekolah

“Iya pak, ada yang bisa Rido bantu pak?

“Kamu harus kuliah lagi, Do!” tambah pak Kepala

“Waduh, biaya dari mana pak? “

“Aturan sekarang kalau mau jadi guru harus S1!”

“Saya gak sanggup pak.”

“Tenang saja, untuk biaya ditanggung pemerintah.”

Mendengar itu aku hanya bisa sujud syukur, setelah itu hanya bisa tertunduk haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Ternyata tanpa sepengetahuanku, pak Kepala sekolah memperhatikan masa depanku sampai mempersiapkan beasiswa untuk kuliah S1 aku.

Ini mungkin buah dari kesabaranku selam ini.

Komentar